AKAD JUAL BELI ONLINE DALAM PERSPETIF SYARIAH









NUBOGOR
- Abstrak. 

Penelitian ini bertujuan mengungkap secara analisis akad Jual Beli Online menurut syariah. Kajian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan yang digunakan yuridis syariah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan studi pustaka berupa buku, jurnal, dan hasil karya ilmiah lainnya. baik yang ada hubungan langsung dengan bahasan mapun tidak langsung. Selanjutnya pengamatan pada model akad jual beli di pasar daring, dan memetakannya. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa akad jual beli online betsifat kondisional, bisa berupa lisan, bisa juga tulisan, atau kedua, bergantung sifat jual beli online.

Kata kunci: akad jual beli online

A. PENDAHULUAN

Pada awalnya pasar diartikan tempat bertemunya penjual dan pembeli, sebagaimana yang diutarakan Atep Adya Barata. Jadi ketika mendengar kata pasar, di dalam benak kita langsung tergambar (tasawur) sebuah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, definisi pasar menjadi berubah. Jika dulu pasar diartikan tempat bertemu penjual dan pembeli, sekarang menjadi terjadinya sebuah transaksi. Sekalipun demikian pasar diartiken tempat bertemu penjual dan pembeli tetap masih relevan, karena masih ada pasar di alam nyata. definisi ini gugur, ketika diterapkan pada pasar daring. Dengan demikian pasar dapat diklasifikasikan menjadi dua; pertama pasar di dunia nyata, kedua pasar di dunia maya. Baik pasar di dunia nyata maupun pasar di dunia maya, yang jelas esensi dari pasar itu sendiri transaksi.

Kedua model pasar tersebut, keduanya memiliki kelebihan dan kekuranga. Pada pasar daring penjual dan pembeli tidak terikat waktu dan tempat, kapan dan di manapun pembeli bisa belanja, hanya saja pada pasar daring penjual dan pembeli tidak bisa bertemu. Sehingga tidak terjadi silaturahim antara penjual dan pembeli. Hubungan hanya sebatas penjual dan pembeli. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pasar di dunia nyata. Pada pasar ini penjual dan pembeli bisa bertemu, sehingga terjalin silaturahim keduanya, tetapi terikat waktu dan tempat. Hal yang paling tidak disukai di pasar ini menguras tenaga dan menghabiskan waktu. Hal ini tidak pernah tejadi pada pasar daring. Pada pasar daring setelah berselancar, ketika pembeli sudah menemukan kecocokan barang yang diinginkan, maka akan berlangsung transaksi. Persoalannya, apakah transaksi yang digambarkan di pasar daring termasuk akad, atau memenuhi rukun jual beli dalam sistem syariah, atau tidak? Kondisi ini yang menyebabkan konsumen yang mau menggunakan sistem syariah menjadi ragu ketika belanja di pasar daring.

Perlu diketahu dalam sismten syariah, selain ada syarat, juga ada rukun dalam jual beli. Syarat mencakup barang dan orang yang akan transaksi. Syarat harus dipersiapkan sebelum transaksi. Sementara rukun dalam jual beli terjadi ketika transaksi berlangsung. Rukun di dalamnya mencakup ucapan (shighat) orang yang akad (akid) dan barang (muakid alihi). Pada shighat terdapat serah (ijab) dan terima (qabul).

Pada umumnya konsumen yang ingin menerapkan sistem syariah menemukan keragu-raguan belanja di pasar daring. Apalagi komentar tokoh-tokoh Fiqih pendiri madzhab bersilang pendapat tentang bentuk akad. Ada yang mengatakan akad itu harus terucap. Ada juga kelompok yang mengatakan akad itu tidak perlu terucap, yang penting tindakan yang menunjukan transaksi. Pendapat-pendapat tokoh di atas tentunya membingungkan para konsumen, harus memakai yang mana?. Kondisi ini lahirkan ketidak nyamanan ketika belanja di pasar daring. Secara ekonomi hal ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di pasar daring.

Keraguan konsumen belanjan di pasar daring menggiring penulis untuk melihat lebih jauh tentang esensi dari akad dalam sistem ekonomi syariah. Harapan penulis tulisan ini menjadi jawaban di tengah-tengah keraguan konsumen. Sehingga tercipta kenyamanan, ketentraman dan kepuasan dalam menerapkan sistem ekonomi syarih.

B. METODE PENELITIAN

Kajian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Sebuah Metode yang digunakan untuk menganalisis, menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, dan situasi dari berbagai data yang dikumpulkan dari hasil pengamatan mengenai masalah yang diteliti pada saat penelitian berlangsung. Masalah dalam penelitian ini akad jual beli online di mata syariah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis syariah, yaitu suatu metode pendekatan yang menekankan pada teori-teori hukum syariah yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Segi yuridis dalam penelitian ini yaitu bagaimana syariah menawarkan, dan menggambarkan akad jual beli online.

Dalam penelitian ini menggunakan data primer dan skunder. Data primer dalam hal ini, al-Qur’an, al-Hadis dan fatwa-fatwa ulama syariah (fiqih) tentang akad jual beli online. Adapun datan skunder yang digunakan berupa jurnal, artikel, internet yang ada hubungan langsung dan tidak langsung.

Setelah data primer dan skunder disiapkan. Selanjutnya penulis mengamati akad yang digunakan di pasar daring. Setelah diamati, kemudian dipetakan akad-akad yang digunakan di pasar daring. Dari hasil pengamatan, kemudian dicocokan dengan akad sistem syariah. Dari sisi dapat diketahui, apakah akad pada jual beli online sesuai dengan akad yang ditawarkan sistem syariah, atau tidak? Munkin juga akad pada jual beli online, ada yang dibolehkan oleh syariah, ada juga yang tidak diperbolehkan.

C. HASIL DAN BAHASAN

a. Gambaran umum akad jual beli online

Akad pada jual beli online terbagi dua; Pertama secara langsung, kedua tidak langsung. Disebut langsung, karena transaksi antara penjual dan pemebeli dilakukan secara langsung, tidak melalui pengelola. Transaksi langsung teknisnya ada dua model; pertama, pembeli trasfer sejumlah uang kepada rekening penjual, selanjutnya penjual mengirim barang. Model seperti ini dibutuhkan saling percaya satu dengan yang lain, khususnya penjual dan pembeli. Model kedua dalam transaksi langsung, penjual dan pembeli mengadakan perjanjian bertemu di tempat yang sudah disepakati. Pertemuan ini berlangsung, setelah mengadakan kesepakan tentang barang yang akan diperjual belikan. Pada model transaksi ini, penjual dan pembeli berhadapan langsung di tempat yang telah disepakati. Pertemuan ini sama dengan jual beli di pasar pada umumnya. Perbedaanya hanya terletak melakukan kesepakatan untuk bertemu ditempat tertentu. Model jual seperti ini dalam sistem ekonomi syariah disebut

salam.

Adapun transaksi tidak langsung, pembeli dan penjual dimediasi oleh pengelola. Banyak sekali pengelola di pasar daring yang menghubungkan penjual dan pembeli. Teknis pada model seperti ini, pembeli mentrasfer sejumlah uang kepada pengelola sesuai dengan harga barang yang dipesan. Selanjutnya pengelola mengabarkan bahwa pembeli telah trasfer sejumlah uang sesuai dengan harga barang. Pengelola juga memerintahkan untuk segera mengirim barang yang dipesan. Setelah barang dikirim penjual, pengelola memberitahukan kepada pembeli, bahwa barang telah dikirim dengan no sekian. Pengelola juga memerintahkan kepada pembeli, agar memberitahukan kepada pengelalola jika barang sudah diterima. Setelah barang diterima pembeli pembeli konfirmasi kepengelola. Selanjutnya pengelola mentrasfer sejumlah uang kepada penjual. Model transaksi seperti ini lebih aman. Pasalnya penjual tidak menerima uang sejumlah harga barang, selama penjual belum komfirmasi sebatas waktu yang telah ditentukan. Selain itu, jika penjual tidak mengirim barang selema tiga hari kerja, sementara pembeli telah mentrasfer uang, maka uang akan kembali kepembeli. Namun kembalinya tidak pada rekening pembeli, melainkan pada dompet pengelola untuk dibelanjakan lagi dipenjual yang lain.

Dari uraian di atas, dapat dipetakan akad dalam jual beli online menjadi tiga model. Pertama akad secara tertulis, kedua akad terucap, dan ketiga akad tidak terucap dan tertulis (yadun biyadin).

Untuk jual beli online dengan akad terucap seperti jual beli online dengan transaksi saling berhadapan di tempat yang sudah disepakati tidak ada masalah dalam sistem syariah. Begitu juga dengan akad yadun biyadin, tidak ada persoalan di mata syarih dengan ketentuan yang telah penulis paparkan di atas. Timbul persoalan akad dengan tertulis dimana penjual dan pembeli tidak bertemu. Boleh jadi hal ini yang melahirkan keraguan konsumen yang akan menerapkan sistem syariah, tetapi ditak banyak tahu tentang syariah. Di bawah ini akan penulis paparkan akad sistem syariah di dasarkan pada komentarkomentar tokoh fiqih pendiri Madzhab. Dengan pemaparan secara holistic dari berbagai tokoh fiqih dapat dipotret esendi dari akad itu sendiri.

b. Prinsip Dasar Akad Dalam Syariah

Abdu al-Rahman al-Jaziri dalam salah satu karyanya berjudul ‚Kitab Fiqih

Ala Madzahibu al-Arba’ah‛ yang diterbitkan di Dar al-Fikr Mesir pada tahun 2004, menggabarkan pandangan empat Ulama pendiri madzhab Fiqih secara umum. Baik urusan ibadah (ubudiah) maupun muamalah. Khusus di jilid kedua pada bagian jual beli, Abdu al-Raharman al-Ajaziri menggambarkan bentuk akad jual beli. Setelah beliau menggambarkan akad jual beli, selanjutnya menuliskan komentar empat Ulama pendiri Madzhab tentang akad jual beli.

Dengan demikian bahasan beliau dapat difahami bersifat objekti.

Dalam bahasannya, al-Jaziri mengatakan bahwa dalam transaksi sistem syariah ada yang dinamakan rukun dan syarat. Rukun sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan ketika transajsi berlangsung. Sementara syarat harus dipersiapkan sebelum dan ketika transaksi berlangsung. Baik syarat maupun rukun harus dipenuhi dalam taransaksi, agar transaksi dianggap sah. Tidak terpenuhi syarat dan rukun berdampak pada rusaknya transaksi (fasid).

Syarat dan rukun dalam transaksi syariah banyak sekali dibahas oleh ulamaulama fiqih dengan berbagai level. Namun pada bahasan ini penulis lebih memfokuskan pada bahasan yang diurainkan oleh al-Jaziri. Komentarnya, di antara rukuan transaksi, yaitu; bahasa/ucapan (shighat), orang yang akad (akid), dan yang diakadi (makud alih) (Abdu al-Rahman al-Jiri:2004).

Al-Jaziri, selain mengangkat buah fikirannya dalam kitab tersebut, juga mengangkat komentar-komentar ulama pendiri Madzhab. Di sini al-Jaziri selain memberikan waswaan akad dalam sistem syariah, juga mengajarkan objetif dalam memandang persoalan fiqih yang masuk pada disiplin ilmu cabang (Furuiah). Di bawah ini beberapan komentar ulama Mujtahid Muthlak yang diangkat oleh al-Jaziri.

Imam Hanafi, seorang Ulama dengan level Mujtahid Muthlak pendiri

Madzhab Hanafi, mengatakan bahwa rukun dalam transaksi itu satu, yakni serah (ijab) terima (qabul). Ijab qabul dengan kata lain akad. Untuk ijab qabul Imam Hanafi bersifat kondisional. Artinya ijab qabul bisa dengan lisan, bisa juga dengan tindakan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan Imam Syafi’I yang memahami bahwa dalam transaksi ucapan (shighat) sangat menentukan sah dan batalnya transaksi. .

Selain shighat yang menjadi perbicangan, orang yang ber-shighat, yakni orang yang berakad, menjadi bahan perbincangan di antara ulama. Imam Hanafi misalnya, tidak menentukan kriteria orang yang akad, siapapun boleh, bahkan anak kecilpun dianggap sah ketika akad. Pendapat Hanafi ini dibantah oleh Imam Syafai’I seorang Ulama pendiri Madzahab Syafi’i. Komentarnya, orang yang berakad harus memenuhi kriteria sehat jasmani dan rohani. Untuk itu Imam Syafi’I menggap tidak sah anak yang belum akil abligh (Mukalaf), pintar (Mumaiz) bertransaksi. Tidak hanya itu, Imam Syafi’I juga menggap orang yang buta tidak sah bertransaksi. Jika orang buta melakukan transaksi, maka transaksinya dianggap tidak batal.

Selain hal di atas yang menjadi bahan perbincangan, barang yang di-akadi

(makud alih)pun menjadi bahan perbicangan. Imam Hanafi membolehkan makud alih barang najis, dan barang maghsub. Sementara Syafi’iah, mengharamkan makud alih najis atau maghsub. Adapun Imam Malik, melarang makud alihi bersifat maghsub. Maghsub adalah barang pinjeman tampa meminta izin pemilik. Ketika seseorang menggunakan barang orang lain, tampa meminta izin pemiliknya, hal ini difahami maghsub. Sekalipun pngambilan manfaat barang tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya.

Setelah melihat, berbagai komentar ulama dalam transaksi syarih. Penulis dapat memetakan akad dalam tarnsaksi syariah berpariasi.

Imam Hanafi, bentuk akad bersifat kondisional, yakni akad bisa dengan kata-kata, juga bisa dengan tindakan yang menunjukan pada transaksi. Sementara Imam Syafi’I berpemahaman bahwa bentuk akad lebih menitik beratkan pada lisan. Akad dalam bentuk lisan pun tidak bersifat kaku, bergantung muakad alih. Jika muakad alaih, termasuk kebutuhan primer, dan sudah dimaklumi, akad dapat diterapkan dengan tindakan tampa lisan. Tentunya tindakan yang menunjukan pada transaksi.

D. PENUTUP

a. Kesimpulan

Dari urain di atas, penulis dapat menyimpulkan, bahwa akad dalam sistem syariah bersifat kondisional. Bisa berbentuk kata-kata, bisa dengan tindakan, baik berupa tulisan, maupun isyarat yang menunjukan pada transaksi.

Dalam konteks pasar daring, akad dapat memilih bentuk, sesuai dengan bentuk yang disepakati. Untuk jual beli online yang bersifat langsung, di mana penjual dan pembeli memilih tempat dan waktu untuk transaksi, bentuk seperti ini dapat menggunakan akad lisan atau tulisan, boleh juga keduanya. Sementara jual beli online yang bersifat langsung dengan cara transfer, kemudian barang dikirim, akad dapat menggunakan bukti tertulis.

Adapun jual beli online yang sifatnya tidak langsung, di mana penjual dan pembeli di atur oleh pelapak atau pengelola, maka akad pada model ini dapat dilakukan secara tertulis.

Dari beberpara bentuk akad di atas, konsumen dapat menentukan model akad yang disesuain dengan kebutuhan. Dengan demikian risiko yang tidak diharapkan dapat diminimalisir.

b. Saran

Penulis menyarankan untuk penjual dan pembeli di pasar dari untuk memilih model akad yang dapat meminimalis risiko kerugian.

DAFTAR PUSTAKA

Apipudin, kerjasama pada Sistem Ekonomi Syariah, Analisis Pembiyayaan Akad Mudharabah. ejournal.gunadarma.ac.id › Home › Vol 20, No 1(2015)

Jaziri, al Abdu al-Rhaman, Kitab Fiqih Ala al-Madzahib al-Arbaah (Cairo:Dar al- Fikr) tahun 2004. Chaer, Abdul. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakara: Rineka Cipta) tahun, 2000. Yunus, Mahmud, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: PT.Hidakarya Agung) tahun, 1999. Husain, Taqi al-Din Abi al-Bakr bin Muhammad, Kifayah al-Akhyar, (Kairo: Dar al- Fikr,tt). Qasim, Ibnu, Taushih (Kairo: Dar al-Fikr). Lubis, Ibrahim, Agama Islam Suatu Pengantar (Yogya Karta: Yudistira)1984. Shihab, Muhammad Quraish, Tafsir al-Misbah (Ciputata:Lentera Hati) 2000. (Abuni, Al, Muhammad‘Ali). Tafsir Ayat al-Ahkam (Daral-kutub al-Islamiyyah)

Penulis : Apipudin, S.Th.I., MA.Hum
Jabatan : Penasehat PAC GP Ansor Parungpanjang
Fakultas : Ekonomi Universitas Gunadarma 

Belum ada Komentar untuk "AKAD JUAL BELI ONLINE DALAM PERSPETIF SYARIAH "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2



Iklan Bawah Artikel