Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU yang Menjadi Duta Besar Arab Saudi

NUBogor.com 
- Saya tidak kaget mendengar kabar ada pihak tertentu yang tidak menerima Zuhairi Misrawi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Saudi Arabia. Bahkan tertawa ngakak sambil mbatin, "rasain lu, Bos. Itu buah perilakumu sendiri." Memang begitu adanya, seseorang akan menuai hasil dari proses hidupnya sendiri. Bukan dari mana-mana. Termasuk terpilihnya ZM sebagai Dubes, dan itu untuk Saudi Arabia, adalah nyata hasil dari perilakunya itu.

Menilik perspektif buku Teknologi Ruh (Jakarta: TOPP Indonesia, 2017), bahwa kemelekatanlah yang mengarahkan seseorang memeroleh sesuatu. Kemelekatan utamanya disebabkan oleh cinta, namun juga oleh sebab diametralnya: benci.

Hasil atau buah kehidupan merupakan respon atas apa yang bersemayam di dasar hati, baik itu cinta ataupun benci, yang kemudian terpancar ke dalam perilaku.

Inilah yang dimaksud dengan hukum sebab-akibat, dan itu memang pasti adanya.v

Dari situ dapat diambil dua simpulan pendek, bahwa dipilihnya ZM sebagai dubes itu adalah:

a. hadiah alam semesta akibat dari kemelekatan cintanya terhadap Timur Tengah (dalam hal ini mengerucut kepada Saudi Arabia), atau

b. hukuman alam semesta akibat dari kemelekatan bencinya kepada Saudi Arabia.

Di antara dua rasa ini, kira-kira mana yang paling dominan di kedalaman hati ZM?

Saya mengenal ZM cukup lama sejak di P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), suatu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di dunia kepesantrenan, yang salah satu tujuannya adalah mendorong pesantren untuk terus melakukan transformasi baik di dunia pemikiran maupun gerakan keislaman.

Dalam forum-forum kajian seperti halaqah, diskusi, seminar, dan bahtsul masa'il inilah intelektualitas ZM tumbuh dan berkembang pesat dengan diksi dan kalimat yang begitu bergairah, ditujukan untuk membongkar kejumudan, mendorong pemikiran ulang bahkan penafsiran ulang.

Dalam kerangka inilah Saya memahami cuitan ZM terkait umroh, dan Saya tahu betul itu bukan satu-satunya diksi dan teks yang bergairah itu. 

Ketika diksi yang bergairah itu dijadikan pijakan untuk menilai ZM, di situlah Saya tertawa. Dan, memang kami selalu tertawa ketika diksi-diksi tersebut hadir di ruang diskusi. Tertawa, karena ini sangat powerfull untuk menggugah kejumudan, pada saat yang sama menertawakan kelucuan potensi aneka jenis respon atau reaksi yang sudah dapat kami prediksi. Jadi, ya tidak kaget.

Sebagai seorang penulis, Saya tahu betul bahwa untuk menghasilkan sebuah karya bukanlah hal yang ringan. Itu memerlukan kerja keras yang begitu luar biasa mulai dari intelektualitas yang terus diasah dengan menelaah puluhan bahkan ratusan sumber, dedikasi, istikomah, dan utamanya adalah kemelekatan batin penulis pada obyek garapan. Di sini Saya melihat sosok ZM begitu istikomah melampaui proses keakademikan, karena pikiran-pikiran ZM tidak hanya berkutat di sumber-sumber teori yang ia peroleh tapi juga ia uji dalam forum-forum diskusi yang begitu hidup dan dipraktekkan di dalam gerakan sosial keislaman dan keindonesiaan. 

Sedangkan untuk melihat kemelekatan batin ZM  berdasar pada rasa yang mana, cinta ataukah benci, itu bisa dilihat dari banyak karyanya dan konsistensi pikirannya. Baik itu berupa artikel opini, kolom, lebih utamanya di jurnal dan buku-bukunya. Tulisan di jurnal dan buku-buku ini wajib menjadi penilai utama karena hampir lazim pikiran-pikiran yang ada di situ sudah berdialog dengan pijakan teori dan juga praksisnya, terlihat kegamblangan visinya, juga kedalaman renungannya.

Di antara banyak karya bukunya, di sini Saya sodorkan tiga buku yang dapat Anda analisis, antara lain: MEKKAH: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (Jakarta: Buku Kompas, 2009), MADINAH: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW (Jakarta: Buku Kompas, 2009), dan Al-Qur'an Kitab Toleransi (Jakarta: Grassindo, 2010).
Buku-buku ini disodorkan karena ketiganya inilah yang berhubungan erat dengan buah dubesnya yang dihebohkan itu. Di situ sangat gamblang kemelakatan ZM dengan dunia Timur Tengah dan khazanah yang ada di dalamnya. 

Sebagai seorang pemerhati perilaku, Saya menilai seseorang dari konsistensi karya atau hasil kerjanya. Hasil kerja yang konsisten ini merupakan cerminan atau bahkan pancaran dari dari karakter asli seseorang. Kita lihat tiga karya tersebut merupakan topik-topik yang memerlukan kedalaman. Dan, seperti sudah disampaikan di awal, bahwa kemelekatan (cinta-benci) lah pemicu dari seluruh karya seseorang.

Menelisik ketiga karya itu saja, sebetulnya sudah sangat terklarifikasi kemelakatan ZM terhadap dunia Timur Tengah tidak berdasarkan selain rasa cinta.

Dan rasa cintanya itu kini menemukan momentumnya sendiri, yaitu berkesesuaian dengan proses transformasi yang sedang terjadi di sana di bawah kepemimpinan Pangeran Muhammad bin Salman al-Saud.*

Oleh: Ustadz Ali Sobirin El-Muanatsi, Penulis adalah Peramu Teknologi Ruh, Wakil Sekretaris LTM PBNU, Wakil Sekretaris Komisi KAUB MUI Pusat, Pemerhati Perilaku, Aktivis Kepesantrenan, dan Direktur TOPP INDONESIA.

Belum ada Komentar untuk "Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU yang Menjadi Duta Besar Arab Saudi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2



Iklan Bawah Artikel