Kajian Al- Hikam 189, Perasaan Galau Seorang Salik



                            
NUBOGOR -
من استغرب ان ينقده الله من شهوته وان يخرجه من وجودغفلته فقد استعجزه القدرة الالهية

"Barangsiapa yang merasa pesimis merasa bahwa Allah (tidak akan) menyelamatkan dirinya dari belenggu syahwatnya dan mengeluarkan dirinya dari sifat ghaflah (lupa mengingat Allah) maka sesungguhnya dia mengganggap lemah kuasa Allah, padahal Allah maha kuasa atas segala sesuatu."

Maqalah di atas menjelaskan perasaan seorang salik yang sedang galau mengangap Allah tidak mungkin mengampuni dosanya, melepaskan belenggu syahwatnya, mencabut sifat ghaflah yang melekat pada dirinya.

Perasaan tersebut sering menghinggapi perasaan seorang salik yang sedang gundah gulana merasa sudah riyadhah mujahadah tapi masih dibelenggu oleh haqa nafsu, merasa sudah zikir secara rutin tapi hati masih lupa mengingat Allah.

Perasaan galau yang demikian harus segera ditepis supaya tidak menimbulkan rasa bosan, jenuh dan berujung putus asa dalam berjalan menuju Allah. Perasaan tersebut sama halnya menganggap Allah itu lemah tidak punya kuasa apa-apa, padahal Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Yakinilah Allah bahwa janji Allah itu pasti sesuai hadits Nabi, barang siapa yang ingin berjumpa Allah maka Allah juga senang ingin berjumpa dengannya. Teruslah bangkit menuju Allah dan istiqamah dalam riyadhah mujahadah dan zikir, pasti Allah akan melepas belenggu syahwat dan sifat ghaflah yang menghijabi perjalanan seorang dalam menuju Allah.
Semoga Allah memberikan kekuatan istiqamah dalam riyadhah mujahadah hingga diberikan anugerah wushul ila Allah (ma'rifat).

Dr. KH. Ali M. Abdillah MA Dewan Penasihat PC. GP Ansor, Kabupaten Bogor yang juga Pengasuh Al-Rabbani Islamic College, Gunungputri Bogor.

Belum ada Komentar untuk "Kajian Al- Hikam 189, Perasaan Galau Seorang Salik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel