Kajian Al-Hikam 181, Menyikapi Pengalaman Ruhani


NUBOGOR -

لاينبغي للسالك ان يعبر عن وارداته فان ذلك يقل عملها في قلبه ويمنعه وجود الصدق مع ربه

"Tidak patut bagi salik (pejalan ruhani) mengungkapkan pengalaman ruhaninya, sebab yg demikian itu dapat berdampak menyedikitkan amal dalam hatinya dan dapat mencegah kejujuran hati (dalam beribadah) kepada Tuhannya."

Maqalah di atas menjelaskan bahwa bagi para salik terkadang mendapatkan anugerah pemahaman ilmu-ilmu ketuhanan dan pengalaman ruhani. Hal ini bisa berdampak positif ketika bisa menyikapinya secara tepat. Sebaliknya, jika salah menyikapinya bisa menyebabkan kegelapan dalam hatinya.

Lalu bagaimana sikap salik yang tepat ketika memperoleh anugerah tersebut ? Yaitu tidak diperkenankan menyampaikan pengalaman ruhani kepada bukan ahlinya sebab hal ini bisa mengundang potensi riya', ujub dan takabur, lalu muncul perasaan merasa hebat sehingga menyebabkan lemah semangat ibadahnya karena merasa sudah mempunyai maqam ruhani. Padahal hal ini hanya tipudaya imajinasi dirinya belaka.

Karena itu, sebaiknya pengalaman ruhani disampaikan kepada ahlinya yaitu para guru ruhani yang sudah merasakan perjalanan ruhani sehingga bisa memberikan nasehat yang bijak dan tepat yg tidak mengotori hati dan jiwa. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam menempuh perjalanan menuju kepada-Nya.

Dr. KH. Ali M. Abdillah MA Dewan Penasihat PC. GP Ansor, Kabupaten Bogor yang juga Pengasuh Al-Rabbani Islamic College, Gunungputri Bogor. (Al-Rabbani, 26 April 2020).

Belum ada Komentar untuk "Kajian Al-Hikam 181, Menyikapi Pengalaman Ruhani"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel