Kiai Azaim : NU tidak dilahirkan main-main

NU BOGOR - Saat menyampaikan ceramah pada gelaran Istghotsah dan Ijazah Kubro yang diadakan oleh PBNU, Rabu malam (29/1), KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo bercerita sekilas tentang proses berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.


Kiai Azaim menceritakan riwayat diterimanya ijazah dan tongkat oleh KH. Hasyim Asy’ari dari guru beliau Syaikona KH. Kholil Bangkalan melalui Kiai As’ad Samsul Arifin yang saat itu masih remaja. Tongkat yang diyakini sebagai tongkat nabi Musa itu diserahkan oleh Kiai As’ad sebagai tanda restu dari sang guru kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Jam’iyyah Ulama.

Sebelumnya, sejak tahun 1920 an, kegelisaha para ulama Nusantara sudah dirasakan akibat munculnya gerakan membid’ahkan tradisi dakwah para Sunan yang menjadi darah daging kearifan lokal Islam di tanah Jawa. Pertemuan para ulama saat itu di kota Surabaya hanya dapat berkeluh kesah tentang fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut.

Menurut Kiai Azaim, Syaikhona Kholil Bangkalan ketika itu menyampaikan kepada para ulama yang hadir di rumah menantunya (Kiai Muntaha) dengan mengutip ayat al Qur’an dalam surat At Taubah ayat 32:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Artinya: Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

“Apa yang disampaikan Syaikhona Kholil seketika membuat para ulama yang hadir puas dan mengerti, bahwa ini adalah bagian dari tugas dan tantangan yang harus dihadapi, bahwa akan ada orang-orang yang berusaha memadamkan cahaya Islam yang dibawa sejak zaman Rasulullah hingga para penerusnya.” ungkap Kiai Azaim.

Isyarah yang didapat oleh Kiai Hasyim dari Syaikhona Kholil melalui Kiai As’ad selanjutnya adalah perintah mengamalkan wirid “Ya Jabbar, Ya Qohhar” sambil mengurut tasbih sebanyak tiga kali.

“Perintah wirid dengan memutar tasbih ini dipahami oleh Kiai Hasyim sebagai isyarah bahwa, siapa yang berani mengganggu Nahdlatul Ulama akan hancur sendiri,” jelas Kiai Azaim yang adalah cucu KHR. As’ad Syamsul Arifin. (Azizian)

Belum ada Komentar untuk "Kiai Azaim : NU tidak dilahirkan main-main"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel