Prinsip berbangsa dan bernegara menuju perdamaian abadi dan ketertiban dunia



NU Bogor - Untuk memperjuangkan perdamaian dunia dan tegaknya negara yang mengayomi semua orang tanpa melihat etnis, agama, warna kulit dan keberagaman lainnya maka perlu disepakati beberap hal sebagai berikut:
  ١. لادمحلال
Tidak ada darah yg halal atau boleh ditumpahkan kecuali atas dasar hukum negara dan diputuskan oleh hakim. Kalo perlu hukuman mati dihapuskan. Setiap nyawa harus dilindungi dgn alasan kemanusiaan. Tidak boleh ada pertumpahan darah dgn alasan agama, kebencian, konflik sosial politik atau alasan lainnya.

٢. لاعداوةباسمالدين
Tidak boleh ada permusuhan yang mengatasnamakan agama. Sehingga agama tidak boleh dijadikan sebagai alat politik. Harus dihindarkan agitasi yang menggunakan agama, apalagi utk memilih atau tidak memilih partai atau calon pemimpin tertentu.

٣. اقامةالدولةالشعبية
Penegakan negara bangsa atau nation state. Tidak perlu mimpi khilafah untuk mencari imamatul 'udzhma (امامة العظمى), kepemimpinan agung utk seluruh umat manusia. Pemimpinnya disebut imam besar (  الامامالاعظم). Mimpi itu terbukti memicu konflik yg luas dan memakan banyak korban manusia tak berdosa yg mati sia-sia di berbagai belahan dunia, terutama kawasan Timur Tengah.

٤. قبولامامةغيرالمسلم
Diterimanya pemimpin non muslim sepanjang dicapai dengan cara yang konstitusional.

ه. قبولتطبيقالقوانينوالاحكاممنالحكومةغيرالشرعية
Diterimanya segala pemberlakuan undang-undang, peraturan dan hukum dalam tatanan hukum pemerintahan yang sah, meski bukan hukum syari'at oleh semua warga negara.

Tanpa ditegakkannya 5 (lima) prinsip di atas, maka kekacauan dan konflik sosial dengan berbagai alasan dan pemicunya akan selalu berpotensi muncul dan mewarnai dinamika kehidupan suatu bangsa.
Bila kita mendamba kehidupan yang aman, tentram dan damai, maka kita harus memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh melalui cara apapun yang memungkinkan.

disarikan oleh Achmad Labib Asrori Chizqy.
Pada diskusi Ahad (25/2/2018) di lobby Hotel Atria Magelang bersama KH. Yahya Cholil Staqof, Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Vin)

 

Belum ada Komentar untuk "Prinsip berbangsa dan bernegara menuju perdamaian abadi dan ketertiban dunia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2



Iklan Bawah Artikel