Kajian al-Hikam (71) : Bahaya Istidraj (Pemberian yang tidak diridhai Allah)

NU Bogor -

Kajian al-Hikam 71
Bahaya Istidraj (Pemberian yang tidak diridhai Allah)

خـَفْ مِنْ وُجُودِ اِحْساَنِهِ اِلَيْكَ وَدَوامِ اِساَءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يكونَ ذٰلِكَ اِسْتِدْراَجاًلكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْسُ لاَيَعْلموُنَ

"Takutlah, saat dirimu memperoleh limpahan karunia Allah, namun sikapmu masih terjerambab di kubangan  maksiat kepada Allah. Ingat hal itu  jangan-jangan sebagai istidraj oleh Allah. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan beri istidroj mereka dari sisi yang tidak diketahui oleh mereka."

Maqalah diatas menjelaskan bahwa bermacam-macam sikap orang memperoleh karunia Allah, mereka ada yang syukur, ada pula yang kufur, bahkan ada juga yang diberikan istidraj oleh Allah. Istidraj yaitu memperoleh limpahan karunia tapi tidak diridhai Allah. Contohnya, ada anak kecil minta dibelikan pisau, orang tuanya tidak mau membelikan karena tahu pisau bagi anaknya tidak memberi manfaat justru bisa membahayakan anaknya. Karena anaknya ngeyel dan nangis akhirnya org tua terpaksa membelikan pisau. Setelah dibelikan pisau ternyata tidak membawa manfaat tapi justru melukai tangannya. Itulah ilustrasi sederhana tentang istidraj.

Bisa jadi sikap kita  seperti anak-anak kecil diatas suka berdoa dan meminta bermacam-macam kepada Allah yang kita tidak tahu manfaat dan madharatnya tapi terus minta dengan ngeyel. Permintaan yang disertai ngotot dan ngeyel jika dikabulkan oleh Allah justru akan membawa keburukan pada dirinya. Seperti berdoa meminta harta yang melimpah dan pangkat yang tinggi padahal Allah sudahtahu ukuran paling pas rizki dan pangkat untuk tiap hambanya.  Karena mintanya ngotot dan ngeyel akhirnya dikabulkan oleh Allah, ternyata harta yang melimpah bukan dpt mendekatkan diri kepada Allah tapi justru menjauhkan dari Allah bahkan hartanya menjadi sarana melakukan maksiat kepada Allah. Begitu juga ketika diberikan pangkat yang tinggi tapi tidak membawa manfaat sama sekali untuk dirinya bahkan bisa menjerumuskan pada pusaran korupsi yang akhirnya menyebabkan dirinya masuk penjara. Ini merupakan contoh-contohistidraj.

Padahal kalau kita yakin kepada Allah dan pasrah kepada Allah pasti diberikan yang terbaik menurut Allah. Namun seringkai nafsu kita memicu sikap ngeyel dan ngotot kepada Allah. Berdoa meminta kaya dan pangkat sangat diperbolehkan namun jangan lupa mintalah keberkahan di dalam kekayaan dan pangkat. Kekayaan dan pangkat yang berkah akan mendatangkan kebaikan untuk dunia dan akherat, tapi sebaliknya jika istidraj bisa menghancurkan diri dalamkubangan kehinaan baik di dunia maupun di akherat. Na'udzubillah min dzalik.

Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan hidup kita dan menjaukan kita dari segala bentuk istidraj.

DR. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunungputri, Bogor

Belum ada Komentar untuk "Kajian al-Hikam (71) : Bahaya Istidraj (Pemberian yang tidak diridhai Allah)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel